Memanfaatkan pekarangan untuk
menanam sayur mayur yang dibutuhkan keluarga di Desa Tegallinggah, Penebel,
Tabanan (Komang) Kepala Desa mengungkapkan, kondisi
tanah setempat cukup baik untuk menanam buah-buahan dan palawija, namun tidak
dengan sayuran.
Tidak semua warga memiliki tanah
yang luas untuk bisa dijadikan lahan pertanian. Sehingga, diperlukan gagasan
untuk mewujudkan komitmen bersama dalam mengelola pekarangan yang terbatas
serta meningkatkan perekonomian warga. Bermula dari alasan itu, tercetuslah
sistem penanaman dengan polybag, berupa kemasan plastik yang berfungsi
seperti pot yang berkomposisi tanah dan pupuk dengan perbandingan 1:1.
Beruntung tak ada serangan hama sehingga upaya tersebut menuai hasil yang baik.
Bahkan, bila mulanya tiap warga
hanya mengembangkan lima polybag, berangsur-angsur jumlah tersebut
bertambah menjadi sepuluh bahkan lebih hingga memenuhi pekarangan rumah. Kini
jerih payah sudah dapat dinikmati. Setidaknya ibu-ibu setempat mampu menghemat
sekitar Rp15.000 tiap harinya.
Nominal tersebut akumulasi belanja
sayuran dan transportasi. Tak hanya itu, kelebihan produksi pun biasanya
ditukar ke pedagang sayur keliling dengan aneka lauk pauk lain seperti tahu,
tempe, dan ikan. Kreativitas tak berhenti sampai di
sana. Pengelolaan limbah kemasan pun turut dimanfaatkan. Karung goni, kaleng,
sampah kemasan plastik, dan batok kelapa dimanfaatkan lagi menjadi wadah-wadah
pengembangan tanaman sebagai alternatif selain polybag. Lalu, pupuknya
menggunakan pupuk kandang yang berasal dari ternak mereka.







0 komentar:
Posting Komentar